Pendiri komunitas Petani Muda Keren (PMK) dan BosFresh Apps in Bali, A.A Gede Agung Wedhatama
TABLOIDSINARTANI.COM, Denpasar --- Petani milenial kini semakin menggeliat di berbagai daerah. Di Provinsi Bali misalnya, komunitas Petani Muda Keren (PMK) besutan A.A Gede Agung Wedhatama, terbiasa menggunakan aplikasi pintar untuk memudahkan mereka mengembangkan pertanian dari hulu ke hilir.
Dirinya adalah Pendiri komunitas Petani Muda Keren (PMK) dan BosFresh Apps in Bali ini bukanlah orang baru yang berkecimpung di dunia pertanian. Dirinya melihat industri pertanian di Indonesia, khususnya di Bali menghadapi berbagai tantangan. Ia melihat banyak petani di Bali yang berjuang untuk sejahtera, termasuk kurangnya keterlibatan generasi muda dalam industri pertanian dan tidak adanya perdagangan yang adil antara petani dan pasar.
“Saya mengumpulkan petani agar mereka memiliki kebanggaan bahwa bertani itu cool, dan menjembatani pertanian dari hulu ke hilir. Dari menanam hingga menjual, eceran dan mengekspor, ”jelas Gung Weda, sapaan akrab AA Gede Agung Wedhatama.
Bersama petani di Bali dirinya memproduksi sayur-mayur, buah-buahan, daging, ikan dengan kualitas terbaik, menggunakan metode pertanian Alam, sehingga dihasilkan produk pertanian yang sehat dan bertanggung jawab.
PMK sendiri merupakan komunitas petani muda di Bali yang secara resmi baru berdiri sejak tahun lalu. Saat ini anggotanya sekitar 200 orang yang tersebar di seluruh Bali. PMK memiliki gugus-gugus (klaster) berdasarkan produknya, seperti kluster hortikultura, klaster cengkeh, dan lain-lain. Mereka bekerja dari hulu yaitu petani hingga ke hilir alias pembeli terakhir, konsumen. Teknologi informasi menjadi alat mereka.
Aplikasi BOS Farmer digunakan para petani anggota PMK yang menjadi bagian hulu dalam rantai nilai pertanian. Aplikasi yang terakhir diperbarui pada Oktober 2019, diakses pada April 2020, itu menyatakan sebagai aplikasi untuk memudahkan petani dalam mengembangkan kebunnya dari hulu dan hilir.
Dalam aplikasi itu, petani bisa mengisi keterangan tentang komoditas yang ditanam, jadwal tanam, umur tanaman, luas lahan, dan jumlah tanaman. Dengan algoritma yang dikembangkan sendiri oleh Wedha dan timnya, petani kemudian mendapatkan informasi kapan panen, perkiraan jumlah panen, waktu pemupukan, dan lain-lain.
Menurut Wedha, penggunaan aplikasi bagi petani anggota PMK menjadi keharusan. “Petani kita paksa untuk menggunakan teknologi dan mekanisasi, misalnya traktor, irigasi tetes, dan aplikasi,” katanya.
Big Data
Wedha melanjutkan, adanya aplikasi itu menjadi big data yang digunakan anggota komunitasnya. “Jadi kita tahu, kapan punya (komoditas) apa, berapa, dan di mana,” ujarnya. Dengan perkiraan data panen itu, PMK pun bisa mengatur anggotanya agar bergantian dalam menanam komoditas tertentu.
Dalam bahasa sederhana, pertaniannya berdasarkan proyek, bukan hanya produk.“Kita cari pasar dulu baru kita tanam. Bukan sebaliknya, tanam dulu baru cari pasar,” lanjutnya.
Di tingkat konsumen, Wedha meluncurkan aplikasi BOSFresh yang juga diakses langsung oleh petani. “Ada penjualan langsung ke konsumen dan fair trade. Petani tahu berapa harga produknya dijual karena mereka bisa cek langsung,” katanya.
Wedha menambahkan, mereka memang menerapkan kendali mutu (quality control) ketat terhadap produk-produk yang dijual melalui BOS Fresh. Contoh salah satu syarat wajibnya, produk itu harus dibudidayakan secara alami (nature farming), seperti menggunakan pupuk dan pestisida alami.
Sebagai pengusaha yang terbiasa mengimpor, Wedha juga memberlakukan standar baku mutu ketat pada produk-produk BOS Fresh. “Dengan begitu, produk petani Bali akan berkualitas dan sehat. Jangan hanya terlihat bagus, tetapi beracun karena pakai kimia. Itu kan ngeri sekali,” katanya.