Thursday, 14 May 2026


ABK : Kerja di Kapal Ikan Longline itu Berat dan Berbahaya

11 May 2020, 10:33 WIBEditor : Gesha

Kerja di kapal ikan

TABLOIDSINARTANI.COM, Busan -- Menanggapi peristiwa "perbudakan" yang mungkin terjadi di kapal ikan berbendera China dan melarung jenazah asal Indonesia, seorang Anak Buah Kapal (ABK) berpengalaman yang sekarang bermukim di Busan, Korea Selatan ikut angkat bicara.

"Untuk info saja, kapal yang diliput kemarin, jenis kapal longline tuna. Kerja di kapal longline itu adalah salah satu tempat kerja paling berat dan berbahaya di kapal ikan," ungkap salah satu ABK Indonesia yang berpengalaman di Busan, Korea Selatan, Sigit Heriyanto.

Sigit menceritakan bahwa teman-teman  pelaut banyak cerita pahitnya di kapal longline daripada manisnya. "Ini bukan nakut-nakutin, tapi memang kerja di kapal    ikan itu bukan pilihan utama untuk mencari kerja di negara orang. Kecuali anda sudah paham risiko dan tanggung jawab anda," tambahnya. 

Kenapa berat dan berbahaya? Sigit menjabarkan di kapal longline, ABK kurang tidur karena panjangnya waktu kerja. "Istirahatnya cuma 4-6 jam per hari. Bahkan, kalau anda lihat kapal longline Indonesia pun jam kerja bisa sampai 18 jam. Karena prosesi setting (memasang umpan ke pancing) sampai hauling (narik kembali pancing) itu berjalan terus menerus," bebernya. 

Ikan tuna yang ditangkap pun pastinya berukuran besar, minimal beratnya bisa mencapai 50 kg dan dalam satu hari bisa menangkap sekitar 30 ekor.  "Ikan tuna adalah jenis ikan pelagis besar. Ikan yang berenang melintasi samudra luas dalam siklus hidupnya, untuk menangkapnya pun harus di samudra lepas. Ombak besar harus menjadi hal biasa di kapal longline," tambahnya.

Sigit menceritan ukuran pancing yang digunakan pun besar, seukuran kabel telepon rumah. Dan yang menjadi masalah adalah saat mesin haulers ditarik, pancingnya lupa tidak dilepas dan melukai ABK. "Ini sepele, tapi coba bayangin posisi kurang tidur, Ngangkat ikan gede. Tanpa sadar ada pancing yang menyambar masuk mesin dan melesat ke bagian tubuh anda. Itu seperti peluru atau pisau tajam yang disayat ke tubuh," tuturnya. 

Resiko tersebut semakin besar ketika kesehatan dan keselamatan kerja tidak terjamin karena perjalanan ke tempat fishing ground sampai 2 bulan. Jadi, jangan harap ada rumah sakit di tengah laut, yang ada hanya  pertolongan pertama. "Oh iya, Jangan tanya masalah mandi. Kebayang'kan air tawar buat minum aja sulit apalagi buat mandi," tambahnya. 

Mengenai peristiwa meninggal dan melarung, Sigit menuturkan ada aturan khusus mengenai hal ini. "Tapi jika memang meninggal, ya opsinya diawetkan bersama ikan hasil tangkapan di freezer Palka atau dilarung. Kebetulan ada teman saya yang meninggal tahun 2015 lalu. Kemudian jasadnya diawetkan dalam peti dan dikirimkan ke Indonesia," tuturnya. 

Sedangkan untuk gaji yang tidak sesuai, Sigit menuturkan sepengetahuan dirinya, gaji ABK Longline itu kecil, berkisar Rp 4 jutaan. "Tapi temen-temen yang punya jabatan dan kerja giat yang biasanya dapat bonus lebih," jelasnya.

Para ABK pun sebenarnya sudah terbiasa meminum air destilasi dari air laut menjadi air tawar menggunakan Destilation Plan. "Memang biasanya masih terasa asin, karena tujuan utamanya alat ini agar kadar salinitas garam turun dan bisa ditoleransi oleh kondisi tubuh manusia. Yang jadi masalah apakah alat di kapal benar-benar berfungsi, ini yang jadi pertanyaan," tuturnya.

Mengenai perlakuan istimewa untuk ABK China, Sigit menambahkan itu semua ada alasannya. "Ya jelaslah itu ada alasanya, karena kapal bendera Cina. Mulai jajaran kapten sampai mandor rata rata adalah orang Cina. Jelas ABK Cina lebih diistimewakan karena mereka lebih paham bahasa. rata-rata ABK Indonesia tidak bisa bahasa China.

Diakui Sigit, bekerja dengan orang yang tidak tahu bahasa itu sangat sulit. "Contihnya mandor memerintahkan ambil pancing. Karena kita gak tau disuruh apa. Kita ambil kayu. Kan salah. Ini perintah sepele loh. Apalagi perintah yang sulit," tambahnya.

Solusi

Lantas bagaimana solusi yang setidaknya harus diambil pemerintah maupun tenaga kerja yang ingin bekerja di kapal ikan? Sigit menuturkan pemerintah setidaknya mulai menertibkan agency tenaga kerja yang tidak kompeten yaitu tidak memiliki izin dan SIUPAK yang tujuannya hanya mencari uang. "Mereka biasanya mengirim ABK hanya untuk misi bunuh diri, tanpa adanya jaminan kesehatan maupun keselamatan," tambah Sigit.

Untuk teman-teman yang  ingin jadi pelaut perikanan. Hati hati baca kontrak dan pelajari, usahakan ketika tanda tangan ada penerjemah yang bisa dipercaya. 

Apalagi jika anda orang yang tidak punya skill atau keahlian kusus, jangan mudah terpancing dengan iming-iming gaji besar di negara orang.

"Buat yang sudah ada di kapal, saling bantu dan menjaga antar ABK Indonesia saat bekerja di atas kapal. Bekerja di atas kapal, biasanya ada ABK juga dari negara lain, sedikit salah paham bisa berujung pertarungan berdarah. Selain itu kadang ada benda berat seperti ikan, balok es, katrol atau Amoniak dari palka yang bisa membahayakan. Jadi saling bantu dan menjaga," pesan Sigit. 

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018