Wednesday, 20 May 2026


Serba Manfaat, Singkong bukan lagi Pangan Inferior

03 Jul 2021, 12:59 WIBEditor : Yulianto

28 jenis produk singkong

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Anggapan singkong sebagai produk pangan inferior sudah harus ditanggalkan. Kini sudah saatnya singkong menjadi komoditas superior.

Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan, singkong adalah komoditas pangan yang serba manfaat. Akarnya untuk obat-obatan, batangnya bisa ditanam lagi atau untuk bahan bakar atau biofoam, daunnya untuk sayuran dan pakan ternak.

“Ubinya sudah kita ketahui semua, bisa diolah langsung, dimakan rebusan atau digoreng, bisa untuk tepung atau diambil patinya dan untuk sawut,” kata Suwandi saat webinar Mengenal Lebih Dekat dengan Singkong, Sabtu (3/7).

Singkong lanjut Suwandi, juga bermanfaat bagi kesehatan. Diantaranya, menambah energi, sumber serat dan karbohidrat, memiliki anti oksidan yang baik dan menambah hormon tiroid.

Dalam 100 gram singkong mengandung 121 kalori, air 62,5 gram, fosfor 40 gram, karbohidrat 34 gram, kalsium 33 miligram, vitamin c 30 miligram, protein 1,20 gram dan besi 0,70 miligram.

Suwandi mengatakan, potensi singkong cukup besar. Setidaknya ada 28 jenis produk berbahan baku singkong. Namun menurutnya, untuk pengembangan produknya memang masih menjadi pekerjaan rumah bersama, baik pemerintah, perguruan tinggi dan swasta.

“Tantangan adalah hilirisasi produk olahan ubi kayu. Banyak PR, termasuk untuk perguruan tinggi. Kalau hilirisasi tumbuh, petani semangat karena pasarnya ada dan nilai tambahnya ada di hilirisasi,” katanya.

BACA JUGA:

Goyang-Dunia-dengan-Singkong

Telang-Putih-Khasiatnya-Tak-Kalah-dengan-si-Biru 

Namun ungkap Suwandi, di daerah Banjarnegara, Jawa Tengah, sudah berdiri rumah Mocaf (modified cassava flour) yang didirikan petani milenial. Dari lokasi itu produksi singkong sebanyak 90 ton/bulan atau 30 ton tepung mocaf.

Rumah Mocaf juga bermitra dengan petani mengelola lahan seluas 750 ha dan membeli singkong petani dengan harga Rp 1.500/kg. Mereka juga membangun industri kecil berbahan baku mocaf dengan produknya mie mocaf, brownies, cookies, pizza dan tepung bumbu. “Banjarnegara sekarang terkenal dengan rumah mocaf. Banyak pangan berbahan baku singkong telah dihasilkan,” ujarnya.

Karena itu, Suwandi berharap di sentar wilayah singkong juga dibangun Rumah Mocaf. Jadi kunci pengembangan mocaf adalah hilirisasi dan market driven. “Kita juga harus mengedukasi masyarakat bagaimana memanfaatkan singkong agar optimal manfaatnya,” tambahnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018